Kondisi belajar mengajar di SDN Tlogo 02, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, kini terganggu akibat proyek pembangunan gedung Koperasi Merah Putih. Sejumlah wali murid dan guru mengeluhkan dampak negatif proyek tersebut yang mulai mengancam kenyamanan serta keamanan para siswa di lingkungan sekolah.
Proyek yang berada tepat di samping bangunan sekolah ini memicu debu pekat serta suara bising yang memecah konsentrasi belajar. Oleh karena itu, warga sekolah mendesak pihak pengelola proyek agar segera melakukan langkah mitigasi guna meminimalisir dampak buruk yang terjadi.
Gangguan Debu dan Kebisingan yang Ekstrem
Aktivitas alat berat di lokasi proyek menyebabkan debu berterbangan hingga masuk ke dalam ruang kelas. Selain itu, suara bising dari mesin konstruksi seringkali menenggelamkan suara guru yang sedang mengajar di depan kelas.
Akibatnya, para siswa terpaksa mengenakan masker di dalam ruangan demi menjaga kesehatan pernapasan mereka. Meskipun demikian, langkah tersebut dirasa belum cukup karena partikel debu tetap menempel pada meja, kursi, dan peralatan belajar siswa secara masif.
-
Dampak Kesehatan: Beberapa siswa mulai mengeluhkan batuk dan sesak napas akibat paparan debu konstruksi.
-
Gangguan Psikologis: Kebisingan yang terus-menerus membuat siswa sulit fokus dan merasa stres saat jam pelajaran berlangsung.
-
Keamanan Lingkungan: Warga mengkhawatirkan mobilitas kendaraan berat yang melintas di akses jalan utama sekolah.
Desakan Warga Sekolah terhadap Pengelola Proyek
Wali murid SDN Tlogo 02 meminta pihak Koperasi Merah Putih untuk lebih peduli terhadap lingkungan pendidikan di sekitarnya. Bahkan, mereka menuntut adanya pembatas atau jaring pelindung yang lebih tinggi agar material dan debu tidak langsung mengarah ke sekolah.
“Kami mendukung pembangunan, namun jangan sampai mengorbankan kesehatan anak-anak kami. Oleh sebab itu, kami meminta pihak koperasi memasang jaring pengaman dan melakukan penyiraman air secara rutin di area proyek,” ujar salah satu perwakilan wali murid.
Selanjutnya, pihak sekolah berencana mengirimkan surat resmi kepada Dinas Pendidikan dan pihak terkait. Strategi ini bertujuan untuk mencari solusi tengah agar proyek pembangunan tetap berjalan tanpa harus merugikan hak anak untuk belajar dengan nyaman.
Baca juga:Tunggal Putra Paceklik Gelar All England 25 Tahun, Ini Saran Untuk Jonatan dkk
Perlunya Mediasi dan Solusi Nyata
Hingga saat ini, warga sekolah masih menunggu respon positif dari pelaksana proyek di lapangan. Oleh karena itu, mediasi antara pihak sekolah, komite, dan pengelola Koperasi Merah Putih menjadi sangat mendesak untuk segera terlaksana.
Dengan demikian, semua pihak berharap ada kesepakatan tertulis mengenai jam operasional alat berat agar tidak berbenturan dengan waktu belajar intensif siswa. Namun, jika keluhan ini tetap diabaikan, warga sekolah mengancam akan membawa masalah ini ke tingkat yang lebih tinggi guna mendapatkan keadilan.
Langkah Antisipasi bagi Siswa dan Guru
Sebagai tambahan, pihak sekolah melakukan beberapa langkah darurat untuk menjaga keselamatan siswa:
-
Membatasi aktivitas siswa di luar kelas selama alat berat beroperasi.
-
Melakukan penyemprotan air secara mandiri di halaman sekolah guna meredam debu.
-
Menyarankan orang tua untuk membekali anak-anak dengan masker medis setiap hari.
-
Terakhir, melaporkan setiap kendala fisik yang terjadi pada bangunan sekolah akibat getaran proyek kepada pihak berwenang.












